My Thoughts On: Senandung Ombak
“Angin datang bertiup, dan ranting pina terdengar bergemerisik. Embusan
angin itu tiba-tiba saja membangkitkan gaung yang khidmat dan bahkan terdengar
sampai ke ruangan dalam kuil yang gulita itu. Barangkali itulah Dewa Laut yang
menerima doa si anak muda itu.”
Akhirnya setelah sekian lama, aku balik nulis blog lagi.
Mungkin kali ini aku bakal konsisten buat nulis konten, yah harap-harap aja
sih. Sebenarnya, niatan untuk mulai nulis blog lagi muncul saat aku merasa
kalau caption Instagram nggak bisa menyuarakan pikiranku sepenuhnya saat lagi
nge-review buku. Jadi, aku pindah ke media lain yaitu blog. Kali ini, aku bakal
nulis pendapat dan kesanku tentang Senandung Ombak karya Yukio Mishima.
Blurb:
Dari desa nelayan terpencil di Jepang, jauh di sebuah
pulau kecil yang berhadapan dengan Samudra Pasifik, Senandung Ombak berkisah
tentang cinta pertama yang abadi antara Shinji, seorang nelayan muda dan
Hatsue, putri cantik seorang pria terkaya di desa tersebut.
Shinji terpesona sejak pertama kali melihat Hatuse saat
senja hari di pantai dan pertemuan berikutnya menegaskan bahwa mereka saling
jatuh cinta.
Ketika kabar tak sedap dari seluruh warga desa menguji
cinta mereka, Shinji harus mempertaruhkan nyawanya di laut, di tengah hempasan
ombak dan badai Pasifik untuk membuktikan ketulusan dan kelayakannya memiliki
seorang Hatsue.
***
Aku selalu merasa nervous kalau me-review sastra. Tema
Senandung Ombak yang terkesan sederhana dan mudah dimengerti malah membuatku
berpikir berulang kali, takut kalau ada suatu hal yang nggak ketangkap oleh
otak udangku. Setelah mencari-cari referensi lain, ternyata buku ini memang
karya Yukio Mishima yang agak lebih ringan. Wah, ternyata aku nggak sebodoh
yang aku kira.
Hal yang paling aku sukai dalam Senandung Ombak adalah
penjelasan-penjelasan latar dan tokohnya yang kaya dan ditulis dengan indah.
Deskripsi-deskripsi itu mengisi sebagian besar bukunya tapi terasa mengalir dan
memberikan penggambaran yang sangat jelas tentang pulau tempat cerita
berlangsung, Uta-jima, dan kehidupan warga-warganya. Suasana desa nelayan
begitu terasa di buku ini. Aku merasa kalau penjelasan-penjelasan itu
ditiadakan, maka ceritanya tak akan sama.
Aku menyukai cara buku ini menyorot keberanian dan kerajinan
Shinji dalam melakukan tugas-tugasnya sebagai seorang nelayan. Kisah cinta
Hatsue dan Shinji yang tulus dan terkesan polos juga membuatku hatiku hangat
(serta membuatku iri) dan aku turut senang saat mereka bisa mendapat akhir yang
bahagia, tapi aku merasa kalau hubungan mereka masih bisa dieksplor lebih dalam
lagi. Aku juga suka perkembangan tokoh Ibu Shinji; Chiyoko, sang anak penjaga
mercusuar; dan Yasuo, ketua Perkumpulan Pemuda. Perkembangan tokoh mereka tidak
begitu besar namun masih berperan penting dalam jalannya cerita, terutama saat
memasuki bagian-bagian menuju akhir.
Namun aku merasa konflik dalam Senandung Ombak itu terasa
monoton—mungkin itu hanya perasaanku saja—jadi ada beberapa bagian di buku ini
yang membuatku merasa sedikit bosan. Terjemahan buku ini juga agak kaku dan ada
beberapa kalimat yang harus kubaca dua kali untuk bisa dimengerti, namun itu
tidak begitu berdampak dalam pengalaman membacaku secara keseluruhan.
Yah, sepertinya itu saja yang bisa aku sampaikan.
Sebenarnya aku mempunyai beberapa pendapat lain namun aku melupakannya karena
aku sudah menyelesaikan buku ini sejak lama dan malas mencatat
pendapat-pendapatku, ehehe. Lain kali, aku akan mencoba untuk membuat catatan
saat membaca sastra dan buku-buku lainnya yang akan aku review.
“Di sinilah, seorang pemuda yang lahir dan dibesarkan di pulau itu,
mencintainya lebih dari tempat mana pun di dunia ini, tapi kini ingin sekali
meninggalkannya. Memang hasratnya untuk meninggalkan pulau itu yang menyebabkannya
menerima tawaran nahkoda itu untuk berlabuh di atas Utajima-maru.”

Comments
Post a Comment